Thumb

08Feb, 2021

Mendesain Sultan Muhammad Al-Fatih Generasi Milenial

WIJIATI, S.TP., S.Pd
Benteng Konstantinopel sangat kokoh dan tak tertaklukkan di masanya. Namun Rasulullah SAW bersabda bahwa benteng tersebut akan ditaklukkan oleh Raja dan tentara terbaik kaum muslimin. Ternyata raja dan tentara tersebut adalah Sultan Muhammad Al-Fatih dan pasukannya. Siapa Sultan Muhammad Al-Fatih? Tahukah anda bahwa di era milenial ini akan lahir generasi-generasi Muhammad Al-Fatih? 

Sosoknya yang begitu fenomenal membuat nama Sultan Muhammad Al-Fatih  tak lekang oleh zaman. Keberhasilannya sebagai penakluk benteng ‘maha dahsyat’ Konstantinopel, tentunya tak lepas dari daya upaya yang telah didesain oleh keluarga, guru-guru dan lingkungannya atas izin Alloh SWT. 

Tersebut dalam siroh, pasca penaklukan Konstantinopel terjadi kebingungan tentang siapa yang akan mengimami sholat Jum’at pada hari itu. Kemudian Sultan Muhammad Al-Fatih bangkit dan dengan suara lantang bertanya,
“Wahai pasukanku, siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Jika ada yang meninggalkannya sekali saja, silahkan duduk!” Ternyata semua tentaranya tidak ada yang duduk. Artinya, Muhammad Al-Fatih dan tentaranya adalah orang-orang yang selalu menjaga sholat 5 waktunya.

 Kemudian beliau bertanya lagi,
“Wahai pasukanku, siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini tidak pernah meninggalkan sholat rowatib. Jika ada yang pernah meninggalkannya, silahkan duduk!” Ternyata lebih dari separuh pasukannya duduk. 

Lalu beliau bertanya lagi,
“Wahai pasukanku, siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga sekarang tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud. Jika ada yang meninggalkannya sekali saja, silahkan duduk!” Ternyata seuruh pasukan Muhammad Al-Fatih duduk, kecuali satu orang yang masih berdiri. Dialah Sultan Muhammad Al-Fatih, dan beliaulah yang layak menjadi imam sholat Jum’at.

Keren, bukan? 
Dalam konteks pendidikan ada 3 komponen yang berperan dalam pengasuhan anak, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar. Bagaimana  3 komponen yang dikenal dengan istilah tri pusat pendidikan ini mendesain dan menyiapkan pemimpin peradaban seperti Sultan Muhammad Al-Fatih?  Yuk, kita kupas 7 langkah berikut ini!

1. Menegakkan Sholat
Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, Sultan Muhammad Al-fatih dan pasukannya adalah pemimpin dan tentara terbaik yang tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu, rajin mengerjakan sholat rowatib, bahkan Sultan Muhammad Al-fatih sendiri selaku pimpinan tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud. Maka pendidikan sholat menjadi sangat penting sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan pengasuhan karena sholat adalah tiang penyangga agama Islam. 
Pendidikan sholat tidak hanya mengajarkan esensi gerakan dan bacaan semata, akan tetapi lebih dari itu mengajarkan nilai-nilai karakter mendasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya adalah disiplin, patuh, sabar, tertib, bertanggung jawab, serta membiasakan diri hidup bersih dan sehat.
Sholat berkaitan erat dengan budaya bersih, karena sholat yang baik tentunya diawali dengan wudhu yang baik pula. Wudhu yang baik dipengaruhi oleh kesucian dan kebersihan lingkungan, baik air yang digunakan maupun lingkungan tempat berwudhu. Maka untuk tuntas sholat, harus dituntaskan dulu praktik bersuci/thaharohnya.
Agar sholat kita khusyu’, anak perlu tahu hal mendasar kenapa sholat itu penting, apa manfaatnya bagi kita, dan bagaimana kita memaknai arti bacaannya sehingga anak merasa bahwa sholat adalah kebutuhan, dan bukan kewajiban. Selain itu, untuk menumbuhkan karakter cinta sholat perlu adanya pembiasaan dan teladan dari keluarga, guru dan lingkungan sekitarnya. 

2. Kemampuan komunikasi 
Sultan Muhammad Al-Fatih merupakan negosiator ulung, beliau menguasai lebih dari 6 bahasa asing di usia ke-21 tahun. Hal ini senada dengan inti dari kepemimpinan, yakni kemampuan berkomunikasi. Maka Muhammad Al-Fatih generasi milenial harus dibekali dengan kemampuan komunikasi yang baik. 
“Indonesia butuh insan yang tidak hanya cerdas berkarakter, tetapi juga punya kemampuan komunikasi yang handal, terutama komunikasi dalam bahasa internasional.” Ujar Harris Iskandar, Dirjen PAUD DIKMAS.
Harris, yang pernah menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Amerika Serikat menuturkan bahwa anak-anak di negeri Paman Sam tersebut telah diajari berkomunikasi dan berfikir kritis sejak kecil. “Namun para guru kita seringkali menilai bahwa anak pendiam adalah anak yang baik. Padahal anak yang aktif dan komunikatiflah yang perlu kita ciptakan.” Lanjutnya
Ada 4 kemampuan mendasar yang harus dikuasai siswa di abad 21 yang dikenal dengan sebutan 4C, yakni Critical Thingking, Creatif, Collaborative and Communicative. Kemampuan ini bisa didesain melalui kurikulum sekolah, baik kurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. 
Sebagai orang tua, kita juga bisa membiasakan anak untuk mengungkapkan apa keinginan, perasaan, juga keluh kesah mereka dengan cara menyediakan waktu khusus untuk membersamai anak. Ingat! Tidak hanya bersama dengan anak, tapi membersamai anak. 

3. Berwawasan Luas 
Sultan Muhammad Al-Fatih menguasai berbagai disiplin ilmu, di antaranya adalah ilmu sejarah, ketentaraan, matematika, sains dan teknologi. Al-Fatih bukan hanya sosok pemimpin perang militer, namun beliau juga seorang pemimpin proyek arsitektur raksasa yang memindahkan konsep negara Islam ke dalam imperium besar Eropa. Secara akademik (keilmuan), beliau berupaya untuk menyebarkan ilmu di seluruh negeri melalui pembangunan perpustakaan-perpustakaan besar dengan sistem managemen yang sangat kuat. 
Al-Fatih yang juga sangat mencintai para ulama, membangun gedung-gedung sebagai pusat pembelajaran. Beliau juga membangun pasar, rumah sakit, istana dan masjid yang sangat besar. Beliau memperhatikan perdagangan dan industri, membuat aturan manajemen yang sangat detail di bidang ketentaraan, kelautan, dan peradilan. 
Maka kunci kemenangan Al-fatih terletak pada pemikirannya yang komprehensif (menyeluruh), kekuatan visi, misi dan strategi, serta pengetahuannya yang sangat luas. Kita bisa menyiapkan generasi Al-Fatih yang kuat dzikir dan fikirnya, kuat iptek dan imtaqnya, serta kuat ilmu agama serta umumnya. Selain itu, kita bisa membekali anak-anak kita dengan kemampuan literasi untuk mengakses teknologi, informasi, dan komunikasi yang terus berkembang.  Kita tidak boleh ‘alergi’ terhadap arus globalisasi yang masuk, kewajiban kita sebagai orang tua adalah membekali anak dengan ‘filter’ agama agar mereka bisa menyaring sendiri mana informasi yang penting, diperlukan, atau harus ditinggalkan.

4. Mencintai Al-Qur’an
Raja Murad II, ayahanda Sultan Muhammad Al-Fatih, memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan putranya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang tangguh. Perhatian ini terlihat dari Al-Fatih kecil yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya pada usia sekitar 8 tahun.
Penguasaannya terhadap ilmu Al-Qur’an telah membawa Islam menuju kemenangan yang gemilang. Sebagai ruh baru (arruhul jadid) di tubuh umat Islam, Al-Qur’an menjadi petunjuk, pembeda dan penolong yang akan selalu up to date dengan perkembangan zaman. Maka penting bagi kita untuk membekali anak-anak kita dengan Al-Qur’an, bahkan sejak mereka berada dalam kandungan. Selagi masih kecil, ingatan akan hafalan atau ilmu-ilmu Al-Qur’an akan kuat terpatri. Selagi masih kecil, insyaAlloh banyak waktu untuk meng up grade diri. Sebagaimana kata pepatah, “Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Belajar di waktu besar bagaikan mengukir di atas air.”

5. Menegakkan Disiplin dan Percaya Diri
Sultan Muhammad Al-Fatih kecil sudah diproyeksikan oleh keluarga kerajaan menjadi penakluk konstantinopel. Maka beliau sejak kecil dididik untuk menjadi pribadi pembelajar, disiplin waktu, dan percaya diri. Menurut siroh, sebenarnya Al-Fatih kecil agak membandel. Kemudian ayahnya mendatangkan guru-guru yang tegas dan disiplin, yakni Syeikh Ahmad Bin Ismail Al Qurani dan Syeikh Aaq Syamsudin.
Mereka seringkali menanamkan mindset dalam alam bawah sadar Al-Fatih, bahwa dialah raja terbaik yang dijanjikan dalam hadits Rasululloh akan menaklukkan Konstantinopel. Hal ini ternyata berpengaruh besar terhadap kepercayaan diri Muhammad Al-Fatih. Kepercayaan diri inilah yang akhirnya mengarahkan beliau untuk fokus dalam penaklukan Konstantinopel. 
Pendidikan itu menumbuhkan. Maka tugas kita sebagai guru dan orang tua adalah menumbuhkan karakter positif dalam diri anak serta menumbuhkan harapan-harapan akan cita-cita masa depan kelak.

6. Membiasakan Adab/akhlakul karimah
Guru-guru Muhammad Al-Fatih dikenal sebagai fuqoha dan ahli ibadah. Beliau tidak hanya menyampaikan ilmu/materi belaka, tetapi juga mentransfer nilai-nilai adab yang membentuk kepribadian Sultan Muhammad Al-Fatih sebagai insan yang syamil mutakamil.
Imam Syafi’i Radhiyallohu ‘anhu berpesan, “Ta’allamul adab qoblal ‘ilmi” yang berarti “Ajarkanlah adab sebelum ilmu”. Pesan ini mengandung makna bahwa ilmu dan adab adalah dua sayap yang saling mendukung satu sama lain. Ilmu tanpa adab akan pincang. Adab tanpa ilmu akan kehilangan arah. Maka peran guru atau orang tua, selain sebagai mu’allim (yang menyampaikan imu) juga sebagai muaddib (yang membimbing adab).

7. Tuntas Nilai Akademik, Cerdas, Unggul dan Kompetitif
Sultan Muhammad Al-Fatih adalah pribadi yang cerdas, inovatif dan penuh kejutan. Kecerdasan Al-Fatih terlihat jelas dari pemikirannya yang cemerlang dalam upaya pembebasan Konstantinopel. Alkisah, saat itu Bizantium Roma telah memagari semenanjung Tanduk Emas dengan rantai yang memanjang sepanjang lautan, sehingga tidak mungkin musuh bisa mencapai benteng Konstantinopel tanpa melewati rantai tersebut. 
Namun sebagai figur pemimpin yang cerdas dan inovatif, Muhammad Al-Fatih membuat terobosan baru dengan melewatkan perahu-perahunya melalui jalur darat. Untuk itu mereka harus membabat pohon-pohon yang dilalui dan meratakan tanahnya. Agar kapal bisa melewati daratan dengan mulus, pasukan Al-Fatih membuat alas dari papan datar dan melumasi papan-papan itu dengan menggunakan lemak dan minyak, kemudian meletakkan dan menggandeng serta menarik kapal-kapal tersebut menjauh dari Galata menuju Bizantium tanpa melewati lautan. Walhasil, pasukan Al-Fatih berhasil menaklukkan benteng Konstantinopel dari titik terlemah Konstantinopel yakni Selat Golden Horn. Sangat cerdik, bukan? 

Tantangan tri pusat pendidikan ke depan adalah membentuk generasi yang unggul, kuat sholat 5 waktunya, kuat interaksinya dengan Al-Qur’an, terdepan dalam prestasi dan inovasi, memiliki kemampuan komunikasi yang handal, berakhlakul karimah, disiplin, percaya diri dan berwawasan luas. Merekalah generasi yang didambakan oleh Nabiyulloh Ibrahim ‘alaihissalam dalam Q.S Al-Furqon : 74, “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami (qurrota a’yun), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”
Generasi Muhammad Al-Fatih adalah generasi qurrota a’yun yang memimpin peradaban dunia. Generasi ini insyaAlloh akan segera lahir dari keluarga dan sekolah-sekolah terbaik di seluruh Indonesia. Aamiin Allohumma aamiin..